Berhenti dari Toxic Relationship untuk Hidup yang Lebih Damai

 

#BantuSesamaTanpaKeluarUang #SemuaBisaJadiChangemakers

Halo Changemakers!

Apakah kalian merasa berada di dalam hubungan yang tidak sehat? Pernah merasa bahwa dalam menjalin hubungan, kalian merasa tidak nyaman, ada pihak yang egois dan terlalu mendominasi, melakukan ancaman dan kekerasan, baik secara fisik maupun verbal?

Jika kalian pernah mengalami salah satu hal diatas, bisa jadi kalian berada di dalam toxic relationship. Toxic relationship merupakan hubungan yang tidak sehat dan beracun karena membahayakan hubungan seseorang baik secara fisik maupun emosional.

Selain tanda-tanda tersebut, ada beberapa hal lagi yang dapat menandakan bahwa kalian sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat, antara lain: sering berbohong, melimpahkan semua kesalahan pada dirimu saja, menghindari untuk membicarakan jalan keluar/solusi dari masalah yang dihadapi, memanipulasi pembicaraan, bahkan tidak mau mengakui kesalahan yang dilakukan.

Toxic relationship dapat terjadi dalam hubungan apa saja, lho, Tidak hanya hubungan romantis seperti pacaran saja, tetapi juga dapat terjadi dalam lingkungan pertemanan. Misalnya ada temanmu yang selalu curhat dan minta bantuan kepadamu, bila sedang berada dalam masalah, tetapi sebaliknya, ketika kamu curhat dan membutuhkan bantuannya, temanmu malah mengacuhkanmu dan tidak membantumu dalam menghadapi masalah tersebut, bahkan ketika temanmu sedang bersenag-senang, ia tidak pernah mengajak atau melibatkanmu.

Tentunya tidak mudah untuk keluar dari toxic relationship. Seringkali ada perasaan takut untuk merasa sepi karena ditinggalkan, takut untuk menjalani hidup tanpa keberadaan atau teman yang toxic, takut bahwa keadaan tidak akan berubah menjadi jauh lebih baik. Secara tidak sadar, seringkali kita tidak menyadari bahwa muncul rasa ketergantungan di dalam toxic relationship, sehingga setiap kali ada yang mengingatkan kalian untuk keluar dan mengakhiri hubungan tersebut, kita cenderung menolaknya dan mengangap bahwa hubungan kita wajar untuk dipertahankan.

Lalu, bagaimana sih caranya untuk keluar dari toxic relationship? Tentunya, dibutuhkan keberanian, kesadaran, keyakinan dan kemauan yang kuat untuk berubah. Adanya keberanian untuk mengambil keputusan untuk keluar dari hubungan toxic, berani untuk lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaan dan meminta bantuan kepada orang lain yang dapat kalian percaya (keluarga, teman dekat lain atau professional seperti konselor dan psikolog), Penting juga untuk membangun komunikasi dengan teman atau pasangan kita, jika kalian sedang berada dalam masalah, cobalah untuk mengambil nafas dalam-dalam dan merilekskan tubuh sebelum membicarakannya, serta belajarlah untuk memahami kondisi masing-masing, ketimbang sibuk merespon berbagai macam argumen yang dilontarkan teman atau pasangan kalian.

Setelah keluar dari toxic relationship, tentunya kita dapat melakukan hal-hal yang dapat mencegah kita kembali terjebak dalam hubungan yang toxic, misalnya atau sederhanya, cobalah untuk lebih banyak tersenyum ketika menghadapi hal yang tidak menyenangkan, melatih rasa syukur dengan membuat daftar hal-hal yang kita syukuri hari ini atau biasa disebut dengan gratitude journal (jurnal kebersyukuran), menjalani hidup dengan mindfulness (menyeimbangkan waktu antara waktu bersama pasnagan atau teman dengan waktu untuk diri sendiri), memperbanyak self-care (memperhatikan diri sendiri), dengan melakukan refleksi diri dan mencari waktu untuk mempelajari diri sendiri, membangun dan menjalin hubungan dengan orang terdekat yang peduli akan keadaan emosionalmu,  observasi dalam kehidupan sehari-hari sehingga emosi dan empati kita dapat terkelola dengan baik.

Ingin mengakhiri hubungan yang tidak sehat, tetapi takut dan tidak tau harus memulai dari mana? Ikuti challenge berikut ini, yuk! Selain membantu diri kita untuk terlepas dari belenggu hubungan yang “beracun”, kalian juga dapat memberikan kontribusi melalui aksi-aksi yang kalian lakukan. Setiap aksi kalian bernilai untuk orang-orang yang membutuhkan.program konseling.

Link Challenge: Berani Keluar dari Toxic Relationship dan Memilih Untuk Self Love #WhereWeCare (campaign.com)

Referensi:

https://mindfulnessexercises.com/how-to-practice-mindfulness-in-relationships/#:~:text=6%20Mindful%20Relationship%20Habits%201%20Express%20gratitude.%20One,questions%20to%20those%20we%20are%20in%20relationship%20with.

https://pijarpsikologi.org/toxic-relationship-ketika-sebuah-hubungan-tidak-lagi-menghubungkan/

https://www.psychologytoday.com/us/blog/addiction-and-recovery/202103/what-is-toxic-relationship

https://www.uny.ac.id/berita/pendekatan-psikologi-positif-pada-toxic-relationship

Lopez, S. J., Pedrotti, J. T., & Snyder, C. R. (2019). Positive Psychology: The Scientific and Practical Explorations of Human Strengths  4th Edition. Los Angeles: SAGE Publications

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ART OF HAVING MINDFUL LIFE

Boost up Your Mood with freshly Homebaked Bread!